(F)ata (H)aba (H)usni

Sharing: Hearing Impairment & Lose

Ikhlas lagi …

abi2Baru saja semangat – semangatnya aku melakukan terapi sendiri di rumah, tiba- tiba anak ku sudah tidak mau belajar lagi. Belum ada 15 menit!!! Mulai lah rasa jenuh menghinggapi, marah, kesal, bahkan kalau bisa menangis. Mau teriak rasanya, mau cerita atau curhat ke orang di sekitar, tidak ada yang paham. Paling yang keluar dari mereka perkataan “Sabar, sabar dan sabar lagi!”. Kalau itu (sabar), aku juga sudah tahu. Tapi menjalaninya ini yang tidak mudah.

Setiap hari aku harus menstimulasi atau menata hati agar terus dan mau menjalani hari dengan nya. Setiap hari aku membangun kekuatan agar mampu membimbing titipan Tuhan yang mungkin “berbeda”.

Jenuh hari ini, rasanya dapat diobati sedikit dengan berjalan-jalan di sekitar rumah dengan nya. Sekedar menatap pemandangan lain, sambil berharap ada inspirasi datang untuk membantu diri melepaskan belenggu kejenuhan. Baru sampai di pintu gerbang, terlihat anak-anak sebaya anak kita melirik dan saling berbisik. Apa yang mereka bicarakan? bathin terusik. Ah, pasti soal alat bantu dengar yang terpasang di telinga nya, lanjut bisikan. Ada keberanian untuk membiarkan si anak bergabung dengan mereka, meski ragu menghinggapi. Tapi ada juga harapan, dia dapat hidup bebas bermain dengan teman sebayanya meski ada sesuatu yang “berbeda” dengannya. Ya! biarlah dia bermain dengan temannya, lanjut pikiranku.

Benar saja, baru beberapa saat dia berlari ke arah mereka, ada pertanyaan kecil dari sala satu nya, “Apaan tuh di kuping?”. Sontak saja, hatiku kembali gundah, suatu pertanyaan yang sudah lelah aku menjawabnya. Hampir setiap saat ketika ada orang yang baru melihat anakku bertanya hal yang sama, dan aku harus menjawab hal yang sama pula kepada mereka.

Anakku yang berbicara saja tidak semua dapat dimengerti, tidak menjawab pertanyaan kecil tersebut, atau mungkin bahkan dia tidak mengerti sama sekali apa maksud pertanyaan temannya. Lugu bercampur ketidak pahaman akan pertanyaan yang dihadapkan padanya membuat dengan santai “tak ada jawaban” meluncur dari mulutnya.

Sejenak aku berfikir, ingin segera menarik nya dari lingkaran mereka. Tapi apakah itu benar?, apakah setiap saat aku harus melakukannya?, apakah bukan “hak” nya bermain?. Jahat sekali aku ini!. Sebenarnya siapa yang membuat “perbedaan” itu? Ternyata aku juga berperan pada “peran berbeda” yang disandang nya.

Ya Tuhan! Anakku saja dapat dengan mudah setiap hari melewatinya. Dia saja dapat tidur tenang, tanpa berfikir atau berprasangka buruk terhadap apa yang dialaminya. Bahkan dia tidak pernah berfikir bahwa Engkau Ya Tuhan! tidak adil. Apakah ini “IKHLAS” yang sedang Engkau dan titipan MU ajarkan kepada ku. Ya benar, IKHLAS, hal yang sangat mudah ditulis, diucapkan tapi secara spontan sulit aku melakukannya.

Muncul pertanyaan berikut dibenakku, “Kalau aku saja belum menguasai IKHLAS ini, bagaimana mungkin aku membawanya kepada pengertian IKHLAS di kemudian hari?”, “Bagaimana mungkin dia dapat menerima pengertian perbedaan yang dihadapi, sedangkan aku telah membuat dia berbeda dengan ketidak ikhlasanku?”, “Bagaimana mungkin aku berfikir baik atas segala pemberian-MU kalau IKHLAS itu belum hadir di hati dan pikiranku?”.

BERBEDA“,  ya, itulah yang menghinggapi dan menjadi pertanyaan terus menerus, dari waktu ke waktu di kepalaku. Itu juga yang membuat olah pikiranku kerdil dan tidak menemukan jalan keluar dari hal yang aku anggap “BERBEDA” itu. …

January 6, 2009 - Posted by | Motivasi

4 Comments »

  1. Dulu awal-awal tau Nayla positif alami gangguan pendengaran sempat putus asa banget. Sampai sempat terucap pengen ‘mati’ aja ketimbang hidup ngeliat Nayla ga bisa dengar dan ga jelas masa depannya. Astaghfirulloh….alhamdulillah cepat-cepat sadar dan bertaubat. Ternyata Alloh memang tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Rasa kasihan dan ga mau menyadari bahwa Nayla itu diciptakan Alloh tanpa pendengaran sempurna, ternyata sumber dari segala keputusasaan itu. Akhirnya dengan ikhlas dan berlapang dada nerima Nayla apa adanya jadi obat mujarab untuk bangkit membantu Nayla meraih masa depannya kelak. Toh ternyata tidak semua tunarungu itu tunawicara dan banyak contoh tunarungu yang bisa hidup mandiri, bahkan memiliki kemampuan positif melebihi orang yang terlahir dengan pendengaran normal. Iya kan, hehe…maaf komen nya kebanyakan.

    Comment by Ummi Nayla | January 6, 2009

  2. Alhamdulillah, benar sekali Ummu Nayla. Kalau bukan kita sebagai orang tua yang memulai IKHLAS itu, bagaimana mungkin anak kita dapat belajar IKHLAS, sedangkan yang mengajarkan setiap hari saja (orang tua) belum lulus ujian IKHLAS nya. Istilahnya “CERTIFICATE OF IKHLAS” nya belum dapat🙂

    Comment by fatahabahusni | January 7, 2009

  3. Assalamu’alaikum,

    numpang nimbrung nih, maaf kalau telat. ke-2 anak saya alhamdulillah normal, yang ingin saya urun cerita adalah tetangga saya. Anak terkecil mereka (anak ke-4) mempunyai gangguan pendengaran, tetapi dengan berjalannya waktu mereka tidak membatasi pergaulannya, bahkan menjadikan anak mereka anak yang mandiri dan mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Sekarang usianya sekitar 20 tahun. Bila ada tamu yang datang ke rumah si anak juga tidak ragu untuk menyambut dan mempersilahkan masuk, bahkan terkadang mengajak ngobrol meskipun si tamu belum tentu mengerti ucapan yang terlontar dari si anak karena memang tidak jelas. Keluarga pun tidak membeda-bedakan atau menunjukkan sikap yang lain terhadap tingkah laku si anak bila si anak bersosialisasi. Mungkin kondisi itulah yang membuat si anak tumbuh percaya dirinya. Lingkungan (tetangga) pun jadinya lambat laun terbiasa/menerima/memahami kondisi si anak karena adanya contoh tingkah laku yang diperlihatkan oleh keluarganya terhadap si anak. Memang semua kondisi yang diharapkan butuh waktu untuk bisa menumbuhkannya. Insya Alloh dengan kekuatan iman dan banyak bertukar pikiran serta wawasan bisa membantu membentuk kondisi sesuai dengan yang kita harapkan.
    Mudah2an cerita ini bisa turut membantu🙂, salam buat umminya, amira dan fata.

    Comment by mamah zahro | May 16, 2009

  4. Wa’alaikum salam wr wb.

    Ya, itulah seharusnya yang kita lakukan. Terima kasih.
    fata

    Comment by Fata Haba Husni | May 18, 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: