(F)ata (H)aba (H)usni

Sharing: Hearing Impairment & Lose

Prasangka Baik

abi_icon1Mungkin phrase “Prasangka Baik” sudah sering kita dengar, atau kita baca dari satu artikel atau sumber lainnya. Suatu phrase yang sekali lagi, mudah dibaca, diucapkan, tapi tanpa disadari tidak semua orang mudah melakukannya.

Prasangka baik” tidaklah mungkin terjadi kalau tidak melewati proses berikut:

ikhlas –> bersyukur / bersabar –> prasangka baik

Ya, ternyata untuk melakukannya ada beberapa tahap yang HARUS dilaluinya. Disadari atau tidak, hal yang harus kita mulai sejak kita bangun pagi ini, membutuhkan pembiasaan terlebih dahulu, sebelum dia keluar begitu saja dari dalam diri kita.

IKHLAS

Suatu hal yang prinsip, datang dari keyakinan penerimaan atas apapun yang akan, sedang dan telah terjadi. Biasanya hal ini diperkuat oleh keyakinan terhadap segala apa pun yang diberikan Tuhan pada kita pasti itulah yang terbaik. Kalau ada keluhan, sudah pasti IKHLAS harus masih terus diasah dan dibiasakan. Bukah satu hal yang mudah bukan?. Tapi bagi mereka yang mendapatkannya, sangat mudah pula menjawab MUDAH, karena mereka tanpa disadari juga telah melakukannya setiap saat.

BERSYUKUR / BERSABAR

Ketika datang suatu kenikmatan atau kesenangan, ada beberapa di antara kita berekspresi atau melampiaskan rasa tersebut dengan senyum, tertawa, bahkan ada yang berlompatan. Di tempat lain ada juga yang melakukan sujud syukur dan mengucapkan Pujian kepada Tuhan.

Pertanyaannya, apakah itu sudah bersyukur?. Ternyata baru bagian dari ekspresi saja. Tindakan bersyukur yang paling konkrit atau nyata adalah memanfaatkan “apapun”, besar atau kecil, yang dirasa maupun tidak, atas segala pemberian dari TUHAN tentunya, tanpa adanya harapan baru atau perasaan masih kurang dari yang ada dan kita terima sekarang ini. Tentunya hal ini harus didahului dengan sikap IKHLAS. Kalau tidak, perasaan menerima yang telah ada sekecil apapun dan mengesampingkan keluhan sekecil apapun jadi sulit untuk berbuah SYUKUR. Kalau kita tidak pernah bersyukur, atau menghargai pemberian TUHAN, jangan berharap akan datang kenikmatan tambahan yang lebih besar kepada kita.

Ketika kita tertimpa musibah, suatu hal yang menyakitkan hati atau adanya harapan yang bukan mejadi kenyataan bahkan sebaliknya, ada beberapa di antara kita menangis, kesal, berteriak histeris, atau tidak sedikit yang melakukan tindakan tertentu sampai ada yang bunuh diri. Di tempat lain ada yang mengutuk TUHAN dan mengucapkan kata-kata ejekan karena dirasa apa yang menimpanya tidaklah adil. Meskipun juga ada sebagian dari kita yang berdiam diri saja bahkan tanpa ekspresi yang keluar dari wajahnya.

Pertanyaannya, apakah itu sudah bersabar?. Itu hanyalah bagian ekspresi saja. Sama halnya dengan syukur, sabar merupakan sikap memanfaatkan “apapun”, besar atau kecil, yang dirasa maupun tidak, atas segala pemberian dari TUHAN tentunya, tanpa adanya harapan baru atau perasaan masih kurang dari yang ada dan kita terima sekarang ini. Juga hal ini harus didahului dengan sikap IKHLAS. Kalau tidak, perasaan menerima  sekecil apapun dan mengesampingkan keluhan sekecil apapun jadi sulit untuk berbuah SABAR.

Perbedaan SYUKUR dan SABAR hanyalah situasinya saja. Hal ini bisa kita rasakan apakah itu berupa kenikmatan atau kepedihan, kesenangan atau kesedihan, semua sangat tergantung penyikapannya.

Seperti waktu kita sekolah, setiap ingin naik kelas, pasti kita akan melalui sebuah ujian kenaikan tingkat. Ada soal yang mudah, ada juga soal yang dirasa sulit. Apapun itu, semua harus kita lalui, kalau kita ingin naik kelas. Jika tidak lulus ujian, wajar saja kita harus mengulang kelas yang sama dan diuji di kelas yang sama pula.

Begitulah kehidupan, penyikapan atas segala hal yang datang dan diberikan TUHAN kepada kita adalah jalan untuk peningkatan tingkat SYUKUR dan SABAR kita, dan sudah tentu akan datang lagi cobaan berikutnya yang kelas nya tentu akan lebih meningkat pula sesuai keberhasilan kita menyikapi cobaan sebelumnya.

PRASANGGKA BAIK, hadir setelah tingkat IKHLAS serta SYUKUR / SABAR kita telah biasa. Suatu keharusan pada tingkatan ini untuk memulai hari dengan “prasangka baik” agar sikap mental, penyiapan diri menjadi lebih kuat dan siap menghadapi apapun yang akan datang ke arah kita maupun yang akan kita lalui untuk hari ini dan seterusnya.

Semoga membantu.

Abinya Fata

January 23, 2009 - Posted by | Artikel, Motivasi

2 Comments »

  1. Touchy sekali artikelnya.Tengkyu2…jd makin introspeksi niih;)) Mudah2an makin semangat membesarkan DIDAN.Amin

    Comment by dwi yanti | January 23, 2009

  2. sama 2x bu Dwi, juga buat instropeksi kita sehari-hari. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Yang Maha Kuasa selalu.

    Comment by fatahabahusni | January 27, 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: