(F)ata (H)aba (H)usni

Sharing: Hearing Impairment & Lose

KAMI BISA, FATA BISA, ANDA BISA (WE CAN, FATA CAN, YOU SURE CAN)

Kami (orang tua Fata) mendapat tugas dari sekolah yang cukup unik. Menjelang hari ibu, Ayah si Anak harus mampu menceritakan permainan apa yang disukai ibu si Anak waktu kecil kepada si Anak, tanpa si Ibu mengetahuinya.

Kelihatannya bagi orang tua lain (orang tua anak tanpa kebutuhan khusus) hal ini pun sudah cukup menyulitkan si Ayah. Bagaimana mungkin Ayah mengetahui permainan Ibu waktu kecil, tanpa bertanya terlebih dahulu kepada si Ibu. Artinya Si Ayah harus memutar ingatannya tentang Istrinya, atau kalau perlu menebak, yang kira-kira tepat untuk mengetahuinya.

Bagi kita (orang tua anak berkebutuhan khusus), mungkin kelihatan makin sulit, karena Ayah harus bercerita kepada si Anak dan si Anak nanti menceritakan kembali kepada teman-teman, guru dan ibunya di sekolah.

Bagaimana ya? Awal pikiranku langsung menyergap waktu dapat tugas seperti itu. Istriku dengan cepat bereaksi “Kan Fata sudah bisa Baca!”. “Oh ya!”, sahutku. Segera kita cari kliping tentang permainan anak (Kami biasa mengumpulkan segala hal yang kami pikir berguna untuk terapi anak kami) dan mengguntingnya.

Akhirnya dapat juga permainan yang dipilih. Kemudian tanpa sepengetahuan Ibu, disusun kata perkata, kupilihkan kata yang mudah untuk Fata baca, aku hindari penggunakan konsonan yang belum lancar Fata mengucapkannya, dan akhirnya masuk ke komputer, dicetak, dan ditempelkan gambar permainannya.

Pagi hari, sebelum berangkat ke kantor, Fata sudah bangun. Segera, aku ajak dia membaca lembaran yang sudah aku susun. Susah payah?, ya, Fata membaca dengan susah payah. Ketika Anak lain mungkin bisa langsung bercerita tanpa kertas, tanpa gambar, Fata menggunakannya.

Esok harinya, tibalah saat bercerita. Satu persatu teman sekelas Fata bercerita tentang permainan yang disukai ibunya waktu kecil. Satu persatu selesai dengan tentu saja senyum bahagia dari si Ibu. Ternyata saat Fata tiba, memang sudah ditunggu oleh guru, orang tua, teman-teman dan Ibunya sendiri. Tanpa ragu Fata mulai membacakan lembaran yang Ayah buat dan dibacakan tanpa malu di depan kelas. Kata per kata Fata baca. Tanpa sadar yang mendengar pun mulai meneteskan air mata. Memang apa yang berbeda?. Perlu anda ketahui di kelas itu yang bisa membaca baru 2 orang anak (Taman kanak-kanak), 1 anak normal yang cerdas dan FATA. Tepuk tangan dan rasa haru menyellimuti kelas matahari (nama kelas Fata). Yah!, itulah yang “DIANGGAP” berbeda.

Cerita ini disampaikan untuk menjadi pengobar semangat kita, KAMI BISA, FATA BISA, ANDA PASTI BISA.

Apa sudah bisa semua? BELUM. Tapi jangan pernah berhenti berharap dan jangan pernah berkata TIDAK BISA.

Salam,

Abinya Fata.

*************English*************

We (parents Fata) has the task of school is quite unique. By day a mother, father of the child should be able to tell what game you like the mother of the child as a child to the child, without her mother knowing.

It looks for other parents (parents of children without special needs) this was already quite difficult for the father. How could the father know the game my mother as a child, without asking first to the mother. This means that The Father must turn his memories of his wife, or if you have to guess, which is roughly the right to know.

For us (the parents of children with special needs), may seem more difficult, because my father had told the boy and the boy later recounted to friends, teachers and her mother at school.

How ya? Beginning immediately ambushed the time my mind to a task like that. My wife quickly responded “Kan Fata was able to Read!”. “Oh yes!”, I replied. Soon we were looking for clippings about the games children (We used to collect all the things that we think is useful for the treatment of our son) and cut it.

Finally it can also play selected. Then unbeknownst to Mom, compiled word for word, kupilihkan Fata said that easy to read, I avoid using consonant that has not been smooth Fata said it, and eventually into the computer, printed, and pasted a picture game.

In the morning, before leaving office, Fata was awake. Immediately, I ask him to read the sheet that had me flat. Painstakingly?, Yes, Fata read with difficulty. While other children may be directly tell without paper, without pictures, Fata use it.

The next day, it was time to tell stories. One by one Fata classmate told me about the game that favored his mother as a child. One by one, of course, finished with a happy smile from the mother. Apparently when Fata arrived, it had been awaited by teachers, parents, friends and her mother alone. Without hesitation Fata began to read the sheet that my father made and read without shame in front of the class. Fata read word by word. Without realizing the hearing began to shed tears. It’s what’s different?. You need to know in the class who could read only 2 children (Parks childhood), a normal child is intelligent and FATA. Applause and compassion menyellimuti sun class (class name Fata). Yah!, That’s what “DEEMED” different.

This story was submitted to become pengobar our spirit, WE CAN, CAN FATA, YOU SURE CAN.

What can all this? YET. But do not ever stop hoping and never say NO.

Sincerely,

Abinya Fata.

December 17, 2009 - Posted by | Artikel, Cerita, Motivasi

8 Comments »

  1. saya ikut terharu dan bangga. jd kangen sm fata nih. kemajuan fata pesat ya, semua itu krn kegigihan ke-2 ortunya. cerita ini bs menjadi motivasi buat semuanya, termasuk diri saya sendiri.terima kasih untuk cerita yg indah, semoga disusul dgn cerita2 motivasi lainnya. salam tuk merry, seorang ibu yg hebat dan jg temanku, miss u mer.

    Comment by tari | April 29, 2010

  2. Terima kasih sudah menyempatkan mampir. Comment juga berguna bagi kita semua. Salam juga buat suami. Insya Allah salam disampaikan.

    Comment by Beny Sudarmaji | April 30, 2010

  3. Wah Fata sudah bisa membaca selamat ya Fata ibu Merry dan pak Beny…membuat semangat saya (mama kanaia) yang saat ini perasaannya lagi down ….😦 Kanaia dan Fata pasti bisa…semangat..

    Comment by Tina Taurina | November 12, 2010

  4. fata sekolah di sekolah biasa?hebat….membuat saya juga pd memasukkan anak saya yang berkebutuhan khusus seperti fata ke sekolah biasa….

    Comment by RIRIN | November 18, 2010

  5. saya pingin anak saya bisa pake alat bantu, tapi dana yang kami kumpulkan belum cukup,bisa minta info nya pak satu set harga nya berapa?karena saya jg ingin anak saya seperti fata bisa sekolah di sekolah biasa…

    Comment by RIRIN | November 18, 2010

  6. Ibu Ririn yang Insya Allah selalu dirahmati Allah. Sebaiknya sebelum memutuskan membeli ABD (Alat Bantu Dengar), diyakinkan terlebih dahulu kebutuhan alat seperti apa untuk anak ibu. Pertama tentunya menghubungi dokter THT mengenai kondisi anak dan juga lakukan test BERA atau yang lebih lengkap untuk mendapatkan hasil analisa yang maksimal. Setelah itu baru kita pilih ABD yang cocok. Mengenai harga sangat beragam dan ABD juga ada berbagai type. Boleh nanti untuk silaturahmi dapat email ke kami atau menghubungi istri saya untuk sharing.

    Comment by fatahabahusni | November 19, 2010

  7. bisa minta alamat email nya pak,biar bisa sharing…makasih sebelumnya…

    Comment by RIRIN | November 19, 2010

  8. Boleh Bu, benysudarmaji@yahoo.com, mungkin istri atau saya sendiri yang akan berbalas. Terima kasih Bu, semoga kita semua selalu SEMANGAT karena kita orang pilihan TUHAN yang tidak semua sanggup menerimanya.

    Comment by fatahabahusni | November 20, 2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: